BUDURAN, SIDOARJONEWS.id – Pasca runtuhnya bangunan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo, kepolisian tidak hanya fokus pada penanganan evakuasi, tetapi juga memberikan pendampingan psikologis bagi para korban maupun keluarganya, Selasa (30/9/2025).
Polda Jawa Timur bersama Polresta Sidoarjo menggelar kegiatan trauma healing untuk mendukung pemulihan mental para santri dan keluarga.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kabag Psikologi SDM Polda Jatim, AKBP Mujib Ridwan, didampingi Kabag SDM Polresta Sidoarjo, Kompol Hery Dian Wahono, serta sejumlah anggota kepolisian. Mereka mendatangi korban santri yang masih menjalani perawatan di rumah sakit, sekaligus menemui keluarga korban yang menunggu di kawasan ponpes.
“Trauma healing ini adalah bentuk nyata kepedulian dan simpati kami kepada para korban maupun keluarganya. Kami ingin mereka tidak merasa sendirian dalam menghadapi cobaan berat ini,” tutur AKBP Mujib.
Menurutnya, pendampingan psikologis sangat dibutuhkan agar para korban dapat bangkit dari rasa takut maupun trauma akibat peristiwa mengerikan tersebut. “Kami berharap layanan ini bisa membantu proses pemulihan mental dan emosional mereka, sehingga lebih kuat menjalani masa pemulihan,” imbuhnya.
Dalam sesi trauma healing tersebut, petugas kepolisian mendengarkan cerita langsung dari santri maupun keluarga korban. Mulai dari pengalaman mencekam saat bangunan roboh, hingga keluh kesah orang tua yang kehilangan kontak dengan anaknya ketika peristiwa itu terjadi. Polisi kemudian memberikan penguatan mental dengan kata-kata semangat, doa, dan dukungan moral agar mereka bisa menghadapi situasi dengan lebih tabah.
Kompol Hery Dian Wahono menambahkan, kehadiran polisi bukan hanya dalam konteks pengamanan atau penyelidikan, melainkan juga sebagai bagian dari upaya kemanusiaan. “Kami hadir untuk memberikan semangat baru. Rasa aman bukan hanya soal fisik, tetapi juga mental. Dengan trauma healing, kami berharap korban dan keluarga bisa sedikit lebih tenang,” ucapnya.
Suasana haru terlihat di ruang trauma healing ketika beberapa korban santri menceritakan detik-detik saat mereka terjebak di dalam bangunan yang ambruk. Beberapa keluarga tidak kuasa menahan tangis ketika mengingat kondisi anak-anak mereka. Meski demikian, pendampingan yang dilakukan aparat kepolisian memberikan sedikit rasa lega, karena ada dukungan moral yang membantu mengurangi beban pikiran.
Tragedi runtuhnya bangunan Ponpes Al Khoziny sendiri telah menyita perhatian luas. Hingga saat ini, tim SAR gabungan masih bekerja keras mengevakuasi korban yang diduga masih tertimbun. Sementara itu, layanan trauma healing dipastikan akan terus berlanjut untuk membantu para korban maupun keluarganya dalam menghadapi dampak psikologis pascabencana.
Dengan hadirnya pendampingan psikologis dari kepolisian, diharapkan para santri dan keluarga korban bisa segera pulih, baik secara fisik maupun mental, sehingga dapat melanjutkan kehidupan mereka dengan lebih kuat di tengah cobaan besar ini. (Ard)





