Sabtu, Agustus 30, 2025
BerandaRagam SidoarjoMereguk Manisnya Iman Melalui Hal-Hal yang Sepele

Mereguk Manisnya Iman Melalui Hal-Hal yang Sepele

SIDOARJONEWS.id – Dalam hidup, tidak semua keinginan yang kita damba-dambakan harus tercapai. Toh meskipun tercapai, itu bukan semata-mata karena seratus persen usaha kita. Ada sekian juta faktor yang mendukungnya.

Sebab, sudah menjadi kodrat dan fitrah manusia yang mana dalam kondisi apapun ia tidak bisa lepas dari bantuan pihak lain.

Minimal ia butuh sekian perangkat dalam tubuhnya yang harus berfungsi normal agar kehidupannya tidak terganggu. Jantung yang tetap berdetak, saluran pernafasan yang normal, saraf yang sehat dan lain sebagainya. Belum lagi “pihak-pihak” lain diluar diri manusia itu sendiri, mulai udara,air, matahari, tanah, dan hal pokok lainnya.

Dikarenakan hal itu berjalan secara otomatis dan berulang dengan tanpa sedikitpun usaha manusia, maka kebutuhan pokok tersebut justru terabaikan bahkan terlupakan.

Dalam beberapa ayat, Al-Quran menyindir kepongahan dan kesombongan manusia itu. Agar manusia tidak alpa akan wujud sejatinya serta perhatian dengan kesehatan tubuh dan lingkungannya.

Dalam surah al Mulk Allah menyatakan :

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِين
. [الملك: 30]

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”.

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۖقَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ.

Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati nurani (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (Almulk: 23).

Dua ayat diatas cukup bagi kita untuk merenungi hakikat kehidupan kita dan posisi manusia sebagai makhluk sekaligus hamba yang sungguh lemah. Tanpa peran pihak lain dalam semesta ini, manusia tidak ada apa-apanya.

Maka sesekali kita harus pernah atau minimal berusaha merasakan kehadiran Allah melalui setiap hentakan nafas kita, setiap gerak tubuh kita, setiap keputusan kita, baik itu dalam hal-hal remeh, seperti menghirup udara, merasakan detak jantung, berbicara, hingga hal hal besar yang butuh usaha besar. Dengan begitu Allah SWT selalu “hadir” dan memang Dia-lah penentu sejati keberhasilan dan kegagalan kita.

Seluruh ilmuan modern sepakat bahwa capaian tertinggi manusia adalah menemukan kedamaian, ketenteraman, dan keselarasan dalam hidupnya. Sehingga ia tidak lagi berurusan dengan ketakutan, kegamangan maupun keraguan.

Setiap pijakan dari jengkal hidupnya berlandaskan Tauhid. Tauhid adalah kesatuan kehendak antara pencipta dengan makhluknya, antara Allah dengan hamba-hambanya. Dengan begitu, kita mulai memasuki pintu perkenalan dengan Allah serta mulai merasakan kenyamanan iman yang selama ini lebih sering kita maknai dengan “percaya”.

Padahal iman tidak hanya kepercayaan yang pasif, akan tetapi bentuk perasaan aman, damai, dan tentram yang selalu mengiringi setiap langkah kita dalam kehidupan ini.

Gus Baha dalam salah satu kajiannya mengatakan bahwa kanjeng nabi tidak hanya mengajarkan iman kepada kita, dan memang iman saja belumlah cukup, tapi harus sampai merasakan manisnya iman itu.

Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam bersabda

ذاق طَعْمَ الإِيمَانِ، مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا، وَبِالإِسْلامَ دِيناً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً». رواه مسلم.

“Orang yang puas dengan Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad Sebagai panutannya maka akan benar-benar merasakan manisnya iman. (HR.Muslim).

Iman tidak cukup hanya dimaknai sebagai ajaran atau doktrin yang didengung-dengungkan diatas mimbar khutbah, akan tetapi iman adalah mujahadah, perjuangan menyelami kesadaran tauhid di setiap titik hembusan nafas dan gerak kita. (*/Ipung)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

IKUTI

9,232FansSuka
26,622PengikutMengikuti
35,500PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

BERITA POPULER