Minggu, Agustus 31, 2025
BerandaRagam SidoarjoBertawakal Lebih Dulu, Berikhtiar Kemudian: Membincang Rumus Usaha dan Doa

Bertawakal Lebih Dulu, Berikhtiar Kemudian: Membincang Rumus Usaha dan Doa

“Niat bisa bermakna ide, konsep, rumus, peta, keyakinan, atau apapun yang berkaitan dengan sisi “dalam” manusia”

Oleh : Muhammad Sholah Ulayya Lc.M.Pd.I
(ASWAJA NU Center Sidoarjo)

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرؤ ما نوى

“Sesungguhnya setiap tindakan harus ada konsep dan rumusannya, dan sesungguhnya setiap orang akan menuai dari seberapa kuat ia berkomitmen menjalankan konsepnya itu”, (HR.Bukhari dan Muslim).

Hadis diatas sangat populer. Namun, lebih sering ditempatkan dalam sekat-sekat ibadah sehari-hari. Padahal kalimat hadis tersebut bersifat umum dan mengandung lebih banyak cakupan dari sekadar “ibadah” yang difahami kebanyakan orang.

Niat bisa bermakna ide, konsep, rumus, peta, keyakinan, atau apapun yang berkaitan dengan sisi “dalam” manusia. sedangkan Amal adalah wujud nyata dari niat itu. Sehebat apapun sebuah ide, ia hanya akan bergentayangan tanpa wujud jika dibiarkan tanpa tindakan.

Begitu juga amal yang dijalankan tanpa konsep yang matang, hanya akan menjadi rutinitas harian yang sering menimbulkan kebosanan meskipun amal itu bernilai ibadah.

“Lantas, menurut anda lebih penting mana, niat atau amal?”

Tanya seorang sahabat.

Persoalan akan menjadi semakin rumit jika ada orang yang cara berpikirnya seperti diatas. Hidup ini tidak bisa dimutilasi dengan mementingkan satu hal dan mengabaikan yang lain. Semuanya saling terkait meskipun kelihatanya terkotak-kotak.

Tapi jika saya dipaksa untuk menjawab, maka saya akan mengatakan bahwa tindakan jauh lebih penting dari pada niat atau ide. Sebab dari sana kita akan belajar, Ternyata tindakan tanpa konsep yang mapan hanya akan berjalan beberapa langkah kemudian lelah, bosan dan berhenti.

Tapi, tidak menutup kemungkinan dari tindakan itu muncul penemuan-penemuan baru berupa ide-ide segar yang akan semakin menjadikan hidup lebih bergairah dan bermakna.

Rumus Gelas Kosong

“Jadilah gelas kosong dan biarkan Tuhan yang mengisinya ” kata orang bijak.

Artinya, sebelum memulai berusaha justru kita harus bertawakal terlebih dahulu. Jadikan tawakal sebagai pijakan pertama, baru berusaha.

Agar ketika terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, kita tidak terlalu tenggelam dalam kekecewaan. Sebab diawal perjalanan, kita sudah berikrar bahwa hasil ada di “Tangan-NYA”, sedangkan usaha ada tangan kita. Kita sudah berusaha, biarkan takdir-NYA yang berjalan.

Rumus pertama ini diilhami dari filosofi rukun Islam yang pertama, yaitu Syahadat. Juga salah satu asma Allah “Al-Awwalu” dan “Al-Akhiru”. Dialah yang mengawali dan Dia pula sang penentu, “al-Akhir”. sedangkan usaha kita berada ditengah-tengahnya.

Kesadaran wasatiyyah (Pertengahan) ini akan membantu kita untuk terus berproses, berikhtiar, dalam lingkaran kepasrahan total.

Syekh Yusri mengatakan :

التوكل عبادة تتعلق بالقلب والجوارح. أما التسليم والتفويض فعبادة تتعلق بالقلب فقط.

التوكل قبل التفويض لأن التوكل له مظهر في الخارج وهو الاخذ بالأسباب مع عدم الإعتماد عليها.

Tawakkal adalah sebuah bentuk ibadah yang tidak hanya terkait dengan hati, tapi juga dengan tindakan. Sedangkan berserah (tafwid) adalah ibadah yang hanya berhubungan dengan hati.

Tawakkal harus didahulukan sebelum berpasrah (tafwid), sebab tawakkal selalu mempunyai penampakan lahir yang berupa tindakan nyata. akan tetapi kita tidak boleh bergantung pada tindakan tersebut. (***)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

IKUTI

9,233FansSuka
26,623PengikutMengikuti
35,500PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

BERITA POPULER