Thursday, February 19, 2026
HomeFeaturesJejak Iman yang Terhapus Zaman: Ketika Sidoarjo Pernah Menjadi Pusat Jemaat Kekristenan...

Jejak Iman yang Terhapus Zaman: Ketika Sidoarjo Pernah Menjadi Pusat Jemaat Kekristenan Jawa

 

KOTA, SIDOARJONEWS.id – Sidokare, yang kini dikenal sebagai salah satu kelurahan di Kabupaten Sidoarjo, menyimpan fragmen sejarah yang nyaris terlupakan. Jauh sebelum menjadi kawasan perkotaan seperti sekarang, wilayah yang pada era Hindia Belanda bernama Sidhokarie ini pernah menjadi pusat komunitas Kristen Jawa terbesar di kawasan Sidoarjo pada pertengahan abad ke-19.

Ketua Komunitas Sidoarjo Masa Kuno, dr. Sudi Harjanto, sekaligus pegiat sejarah Sidoarjo, menyebut Sidokare memiliki posisi penting dalam perjalanan awal Kekristenan Jawa Timur.

“Sidokare itu masuk generasi awal komunitas Kristen Jawa. Bahkan lebih dulu berkembang dibanding Mojowarno dan semasa dengan Ngoro,” ujarnya.

Catatan sejarah menunjukkan, pada tahun 1848, Pendeta Jellesma melaporkan adanya sekitar 400 orang Kristen pribumi yang tersebar di 40 titik pemukiman. Jemaat terbesar berada di Sidokare, yang menjadi pusat perayaan Natal dan Pentakosta.

“Ini menunjukkan Sidokare bukan komunitas kecil, tapi simpul utama kegiatan rohani saat itu,” kata pegiat sejarah tersebut.

Berbeda dengan Ngoro yang berbasis pertanian, Sidokare tumbuh sebagai kawasan sewa pakai yang ramai dan dekat dengan pecinan. Banyak warganya bekerja sebagai pedagang, pengrajin, hingga kuli. Tuan tanah bernama W. Gunsch bahkan membangun sebuah gereja senilai 1.000 gulden serta sekolah yang tergolong maju pada masanya.

Kejayaan Sidokare sempat mencapai puncaknya saat kunjungan Pendeta W. R. Baron van Hoevellen dan J. J. Scheuer pada 1847. Ibadah dihadiri sekitar 200 orang Jawa, termasuk puluhan anggota baru. Tokoh-tokoh Kristen Jawa seperti Paulus Tosari, Jacobus Singotroeno, dan Mattheus Aniep tercatat aktif di sana.

Namun, konflik perlahan menggerus komunitas ini. Gunsch mulai bersikap otoriter dan membatasi hubungan jemaat dengan Pendeta Jellesma.

“Dari sinilah situasi berubah. Ketegangan antara kepentingan tuan tanah dan kebebasan beribadah mulai terasa,” jelas dr. Sudi lebih jauh.

Kondisi tersebut membuat banyak jemaat, terutama yang berasal dari Ngoro, memilih hengkang. Keinginan kembali bertani mendorong mereka bermigrasi ke kawasan baru, salah satunya Mojowarno. Migrasi ini menjadi titik balik surutnya Sidokare sebagai pusat komunitas Kristen Jawa.

Setelah tahun 1851, Sidokare semakin kehilangan peran sentralnya. Misionaris dipindahkan, kepemilikan tanah berganti, dan aktivitas gereja perlahan menghilang. Catatan terakhir pada 1862 menyebut, hanya tersisa 10 keluarga Kristen, tanpa gereja, dan tinggal 20 murid di sekolah yang pernah berjaya.

“Yang tersisa hari ini hanyalah jejak dalam arsip dan ingatan sejarah. Gereja Sidokare hilang secara fisik, tapi kisahnya penting untuk dipahami sebagai bagian dari mozaik sejarah Sidoarjo,” pungkasnya. (Hnf)

 

BERITA LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

IKUTI

9,204FansLike
27,159FollowersFollow
37,400FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

BERITA POPULER