KOTA, SIDOARJONEWS.id – Tidak semua perjalanan besar dimulai dari kota besar. Sebagian justru lahir dari tempat-tempat yang nyaris tak pernah masuk peta percakapan nasional.
Desa Sitiaji, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur adalah salah satunya.
Di desa itulah seorang anak kecil tumbuh di antara tumpukan kulit kambing dan sapi, aroma penyamakan tradisional, serta aktivitas perdagangan yang dijalani keluarganya sehari-hari.
Tidak ada yang menyangka anak desa tersebut kelak akan menghabiskan puluhan tahun hidupnya mempelajari material kulit, menembus industri otomotif premium dunia, berinteraksi dengan lingkungan Ferrari di Italia, hingga dikenal sebagai salah satu ahli restorasi material yang memiliki filosofi unik tentang kualitas dan keaslian.
Anak itu adalah Nasrudin RR. Seorang pria dengan pembawaan tenang. Kharismatik.
Rambutnya lebat. Kumisnya tebal.
Tatapannya tajam, tetapi hangat.
Dengan ciri khas syal warna merah melingkar di leher.

Kini, pada usia 56 tahun, Nasrudin memilih membangun Galeri Q-One di Sidoarjo. Sebuah ruang yang bukan sekadar galeri seni, melainkan representasi perjalanan hidup panjang yang ditempuhnya selama puluhan tahun.
Ya, di tengah koleksi karya maestro seni rupa Indonesia yang memenuhi ruangan galeri, Nasrudin menerima Sidoarjonews.id untuk sebuah percakapan panjang tentang masa kecil, pencarian ilmu, kegagalan, Ferrari, hingga mimpi membangun peradaban melalui pendidikan.
Sidoarjonews.id:
Jika hari ini kita menghapus semua pencapaian, Ferrari, Italia, penghargaan, galeri, dan berbagai hal yang melekat pada nama Nasrudin RR, siapa sosok yang tersisa?
The Master Nasrudin RR:
Saya tetap anak kampung.
Saya tetap anak pedagang kulit dari Sitiaji.
Kalau ditanya siapa saya sebenarnya, ya, saya anak desa yang kebetulan tidak pernah berhenti belajar.
Saya tumbuh di lingkungan yang sangat sederhana.
Bapak saya bergerak di bidang perdagangan kulit.
Sejak kecil saya sudah melihat proses itu setiap hari.
Saat itu saya tidak tahu bahwa kehidupan sederhana itu sedang membangun fondasi perjalanan saya di masa depan.
Sidoarjonews.id:
Apa yang Anda lihat dari dunia kulit yang tidak dilihat kebanyakan orang?
The Master Nasrudin RR:
Banyak orang melihat kulit sebagai barang.
Saya melihatnya sebagai kehidupan.
Setiap kulit memiliki karakter berbeda.
Tidak ada yang benar-benar sama.
Semakin lama saya mempelajarinya, semakin saya sadar bahwa material itu memiliki sejarah.
Ia menyimpan jejak perjalanan.
Menyimpan umur.
Menyimpan cerita.
Karena itu saya tidak pernah menganggap kulit sebagai benda mati.
Sidoarjonews.id:
Apakah kepekaan itu datang dari dunia seni yang Anda geluti sejak kecil?
The Master Nasrudin RR:
Mungkin: iya.
Saya suka melukis sejak kecil.
Saya mengikuti berbagai lomba melukis saat sekolah.
Tanpa saya sadari, seni mengajarkan kepekaan.
Ketika seseorang belajar seni, dia belajar melihat sesuatu lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.
Dan, ternyata, kemampuan itu sangat membantu ketika saya mempelajari material.
Sidoarjonews.id:
Banyak orang bekerja untuk mencari nafkah. Tetapi Anda seperti terobsesi memahami kulit hingga puluhan tahun. Dari mana obsesi itu lahir?
The Master Nasrudin RR:
Karena saya selalu penasaran.
Saya sering melihat barang rusak.
Kulit sobek.
Interior rusak.
Material yang kehilangan nilainya.
Kemudian saya bertanya. Mengapa harus diganti?
Mengapa tidak dikembalikan seperti semula?
Pertanyaan sederhana itu terus mengikuti saya selama bertahun-tahun.
Sidoarjonews.id:
Lalu Anda memilih meneliti sendiri. Meriset semuanya?
The Master Nasrudin RR:
Iya.
Waktu bekerja di Astra, siang saya bekerja.
Malam saya belajar.
Saya mendatangi orang-orang yang memahami dunia kulit.
Belajar penyamakan.
Belajar karakter material.
Belajar kualitas.
Belajar standar internasional.
Saya merasa ilmu itu sangat luas.
Semakin saya belajar, semakin saya sadar bahwa saya belum tahu apa-apa.

Percakapan terhenti sejenak.
Nasrudin memandang salah satu lukisan yang tergantung di dinding Galeri Q-One.
Mungkin ia sedang mengingat masa-masa ketika rumah kontrakannya berubah menjadi laboratorium kecil.
Tempat di mana eksperimen demi eksperimen dilakukan.
Tempat di mana kegagalan menjadi teman sehari-hari.
Sidoarjonews.id:
Benarkah Anda membutuhkan waktu hampir sepuluh tahun untuk menemukan metode restorasi yang Anda yakini?
The Master Nasrudin RR:
Kurang lebih begitu.
Orang sering melihat hasil. Jarang yang mau melihat proses.
Saya mengalami banyak kegagalan. Kadang merasa sudah menemukan jawabannya.
Besok ternyata salah.
Minggu depan salah lagi.
Tahun depan masih salah.
Tetapi saya percaya bahwa ilmu tidak pernah mengkhianati ketekunan. Jadi saya terus berjalan.
Sidoarjonews.id:
Apa pelajaran terbesar dari sepuluh tahun pencarian itu?
The Master Nasrudin RR:
Bahwa kesabaran lebih penting daripada kecerdasan.
Banyak orang pintar. Tetapi tidak semua orang sabar.
Padahal banyak jawaban besar hanya datang kepada mereka yang cukup sabar menunggu.
Sidoarjonews.id:
Di dunia restorasi, Anda dikenal dengan filosofi Back to Original. Apa makna terdalam dari filosofi itu?
The Master Nasrudin RR:
Karena saya percaya nilai tertinggi ada pada keaslian.
Sebuah benda bisa diganti.
Tetapi sejarahnya tidak bisa diganti.
Kalau interior mobil klasik diganti seluruhnya, maka sebagian sejarahnya hilang.
Kalau material asli dibuang, maka identitasnya hilang.
Saya tidak ingin hanya memperbaiki.
Saya ingin mengembalikan jiwanya.
Itulah yang saya maksud dengan Back to Original.
Sidoarjonews.id:
Kapan Anda merasa dunia mulai mengakui kompetensi yang Anda miliki?
The Master Nasrudin RR:
Saya tidak pernah mengejar pengakuan.
Saya hanya mengejar kualitas.
Tetapi mungkin ketika kesempatan belajar dan bekerja di Italia datang, saya mulai menyadari bahwa ilmu yang saya pelajari ternyata memiliki nilai yang lebih luas.
Sidoarjonews.id:
Bagaimana Italia mengubah cara pandang seorang Nasrudin RR?
The Master Nasrudin RR:
Italia mengajarkan penghormatan terhadap kualitas.
Di sana saya melihat bagaimana sebuah detail kecil bisa menentukan reputasi sebuah produk.
Tidak ada kompromi.
Tidak ada jalan pintas.
Kualitas adalah budaya.
Dan budaya itu dibangun selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Sidoarjonews.id:
Lalu datanglah fase Ferrari yang banyak membuat orang penasaran.
Apa sebenarnya yang Anda pelajari dari lingkungan itu?
The Master Nasrudin RR:
Ferrari bukan hanya mobil.
Ferrari adalah filosofi.
Ferrari adalah disiplin.
Ferrari adalah keseriusan terhadap detail.
Orang melihat mobilnya. Saya melihat prosesnya.
Saya melihat bagaimana ribuan detail kecil disatukan menjadi sesuatu yang luar biasa.
Di situlah saya belajar bahwa kesempurnaan bukan hasil keberuntungan.
Kesempurnaan adalah hasil disiplin yang dijaga setiap hari.
Sidoarjonews.id:
Setelah mengenal dunia internasional, mengapa Anda memilih “pulang”?
The Master Nasrudin RR:
Karena ilmu harus pulang.
Kalau semua pengalaman itu berhenti pada saya, maka tidak ada artinya.
Saya berasal dari desa.
Saya tumbuh di Indonesia.
Saya merasa punya tanggung jawab untuk mengembalikan apa yang sudah saya pelajari kepada masyarakat.
Jawaban itu terdengar sederhana.
Namun, justru di situlah letak perbedaan Nasrudin dengan banyak orang. Ketika sebagian orang menggunakan pengalaman internasional sebagai puncak perjalanan, Nasrudin melihatnya sebagai bekal untuk memulai perjalanan berikutnya. Perjalanan “pulang”.

Sidoarjonews.id:
Apakah itu alasan lahirnya galeri Q-One?
The Master Nasrudin RR:
Salah satunya.
Q berarti Quality.
Dan, Quality adalah perjalanan hidup saya.
Galeri ini bukan hanya tempat menyimpan lukisan.
Saya ingin tempat ini menjadi ruang dialog.
Tempat orang belajar.
Tempat orang memahami sejarah.
Tempat orang memahami bahwa kualitas tidak lahir dalam semalam.
Sidoarjonews.id:
Apa mimpi terbesar yang masih ingin Anda wujudkan?
The Master Nasrudin RR:
Akademi.
Museum.
Pusat pembelajaran.
Saya ingin membangun tempat yang bisa melahirkan generasi-generasi baru.
Saya tidak ingin ilmu ini berhenti pada saya.
Harus ada yang melanjutkan.
Harus ada yang lebih hebat.
Sidoarjonews.id:
Jika suatu hari nama Nasrudin RR hanya tinggal catatan sejarah, bagaimana Anda ingin dikenang?
The Master Nasrudin RR:
Saya tidak ingin dikenang karena Ferrari.
Saya tidak ingin dikenang karena galeri.
Saya tidak ingin dikenang karena bisnis.
Saya ingin dikenang sebagai seseorang yang tidak pernah berhenti belajar.
Karena pada akhirnya yang membuat seseorang besar bukan tempat ia dilahirkan.
Bukan seberapa banyak yang ia miliki.
Tetapi seberapa besar manfaat yang ia tinggalkan untuk orang lain.
Tidak terasa malam mulai turun di Galeri Q-One.
Lampu-lampu perlahan dinyalakan. Sorotannya menerangi kanvas-kanvas yang menggantung rapi di dinding.
Di tengah ruang itu, Nasrudin RR tampak seperti sedang berdialog dengan seluruh perjalanan hidupnya sendiri.
Perjalanan yang dimulai dari kampung kecil di Bojonegoro.
Berjalan melewati dunia kulit.
Menembus Italia.
Menyentuh Ferrari.
Lalu kembali pulang ke Indonesia.
Bukan untuk beristirahat.
Melainkan untuk membangun sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Sebuah warisan pengetahuan.
Sebuah ruang peradaban.
Dan sebuah keyakinan bahwa kualitas, pada akhirnya, adalah bentuk tertinggi dari penghormatan terhadap kehidupan.
(Yard)





