TULANGAN, SIDOARJONEWS.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Modong, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, tidak sekadar mendistribusikan paket makanan kepada siswa dan kelompok rentan. Di balik setiap kotak makanan yang diterima, terdapat rangkaian pengujian mutu, kontrol keamanan pangan, hingga penyimpanan sampel sebagai bagian dari sistem mitigasi risiko yang terstruktur.
Program yang dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat ini menerapkan standar operasional prosedur (SOP) ketat guna memastikan makanan yang dibagikan aman, layak konsumsi, serta sesuai kebutuhan gizi penerima manfaat.
Kepala SPPG Modong, Fitra Mauludfiyah, menjelaskan bahwa setiap menu wajib melalui tahap uji coba atau trial beberapa hari sebelum didistribusikan. Proses ini dibuat menyerupai kondisi nyata saat pembagian berlangsung.
“Kami melakukan trial beberapa hari sebelumnya. Makanan dimasak di jam yang sama, dipacking dengan wadah yang sama, dan disimpan hingga waktu berbuka untuk menu Ramadan guna memastikan kelayakan konsumsi,” ujar Fitra, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, simulasi tersebut penting agar kualitas makanan tetap terjaga sejak keluar dari dapur hingga sampai ke tangan siswa. Dengan metode ini, potensi risiko penurunan mutu akibat waktu tunggu atau proses distribusi dapat diminimalkan.
Tak berhenti pada tahap uji coba, setiap batch masakan juga wajib melewati Uji Organoleptik. Pengujian ini mencakup pemeriksaan rasa, aroma, dan tekstur oleh tim internal sebelum makanan masuk tahap pemorsian.
“Kami menunggu sekitar 15 hingga 30 menit setelah dicicipi. Jika tidak ada reaksi negatif, baru makanan didistribusikan. Selain itu, kami juga menyimpan sampel di lemari pendingin untuk setiap jenis masakan sebagai antisipasi jika suatu saat diperlukan uji laboratorium,” jelasnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari sistem pengendalian mutu, termasuk mekanisme penarikan produk (recall) apabila ditemukan kendala di lapangan. Standar ini menunjukkan pengelolaan program dilakukan secara profesional dan terukur.
Jangkau 3.034 Penerima Manfaat
Program MBG di Modong saat ini menjangkau 15 sekolah serta sekitar 300 ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan bayi. Total penerima manfaat tercatat mencapai 3.034 orang.
Pembagian porsi disesuaikan dengan kebutuhan kalori berdasarkan jenjang usia. Siswa TK hingga kelas 3 SD menerima porsi kecil, sementara siswa kelas 4 SD hingga SMA sederajat memperoleh porsi lebih besar.
Selama bulan Ramadan, pengelolaan menu dibagi menjadi dua kategori, yakni menu basah yang dimasak segar setiap hari serta menu kering dengan daya tahan lebih lama agar aman dibawa pulang untuk berbuka.
“Kami sudah melakukan uji coba agar menu tetap berkualitas dan layak konsumsi hingga waktu berbuka,” tambah Fitra.
Dalam evaluasi terbaru, SPPG juga menghentikan sementara sistem “rapel” atau pemberian paket sekaligus untuk beberapa hari. Kini distribusi dilakukan setiap hari guna menjaga kontrol kualitas dan kestabilan nilai gizi.
“Untuk saat ini, kami full menggunakan sistem harian agar kontrol gizinya lebih terjaga,” tegasnya.
Antusiasme Sekolah dan Orang Tua
Antusiasme siswa terlihat di TK Dharma Wanita Persatuan Modong. Kepala sekolah Rohmatul Ummah menyebut anak-anak selalu menantikan kedatangan mobil MBG.
Ia mencontohkan menu burger yang dinilai unik karena dapat menjadi sarana pembelajaran. Anak-anak menyusun sendiri roti, ayam katsu, dan sayur, sehingga sekaligus menjadi aktivitas edukatif seperti cooking class sederhana.
Sekolah juga mengapresiasi komitmen pengelola dalam membatasi penggunaan penyedap rasa (MSG) guna membentuk pola makan sehat sejak dini.
Pengawasan program turut melibatkan tenaga kesehatan dari Polindes dan Puskesmas setempat. Saat peluncuran program, petugas kesehatan desa ikut mencicipi menu untuk memastikan kualitas dan keamanan pangan.
Sementara itu, Sumaiyah (64), nenek salah satu siswa, mengaku puas dengan dampak program terhadap cucunya. Ia menyebut sang cucu selalu antusias menerima paket MBG.
Menurutnya, standar pelaksanaan MBG di Modong tergolong baik dan tertata. Dengan sistem kontrol berlapis, uji mutu ketat, serta pengawasan lintas sektor, MBG Modong menunjukkan bahwa program pangan sekolah dapat dikelola secara profesional, aman, dan berkelanjutan.
(Yard)





