GEDANGAN, SIDOARJONEWS.id – Bekas Halte KA Sawotratap di Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, menjadi perhatian warga setelah diduga berulang kali digunakan sebagai lokasi aktivitas asusila sesama pria. Bangunan yang telah lama terbengkalai dan minim pengawasan tersebut kini dipasangi garis polisi menyusul mencuatnya dugaan aktivitas tersebut ke publik.
Bangunan sederhana berukuran sekitar 5 x 3 meter itu tampak tidak lagi dapat diakses secara bebas. Selain garis polisi yang membentang di sejumlah sisi bangunan, terlihat pula secarik kertas berisi tulisan bernada kecaman yang ditempel di lokasi.
Dalam tulisan tersebut tertulis, “Titik terendah manusia adalah suka sesama jenis. #Awas Silit E #Sunat Larang-Larang Melbu Silit.”
Garis polisi diketahui mulai terpasang pada Senin (13/7) sekitar pukul 01.00 WIB. Penutupan akses dilakukan setelah lokasi tersebut menjadi sorotan akibat dugaan adanya aktivitas asusila yang disebut-sebut berlangsung di dalam bangunan bekas halte.
Kondisi bangunan yang tertutup, sepi, dan jarang dilalui masyarakat diduga dimanfaatkan oleh sejumlah orang untuk melakukan aktivitas tersebut, terutama pada malam hari.
Ahmad Yuliansyah (47 tahun), pria asal Sragen yang selama ini menempati bangunan bekas halte tersebut, mengaku telah beberapa kali mengetahui adanya aktivitas sesama pria di lokasi tersebut. Ia mengatakan kejadian itu bukan hanya terjadi sekali atau dua kali selama dirinya tinggal di sana.
“Iya mas, tempat sini memang sering dibuat untuk aksi asusila sesama jenis,” ujar Yuliansyah, Senin (13/7).
Yuliansyah diketahui mulai menempati bangunan bekas halte itu sejak awal Ramadan. Dalam kesehariannya, ia bekerja mencari barang rongsokan pada malam hari. Bekas halte tersebut dimanfaatkannya sebagai tempat beristirahat sekaligus menyimpan hasil rongsokan yang dikumpulkan.
Menurut pengakuannya, beberapa kali saat kembali dari mencari barang bekas pada malam hari, ia mendapati pria berada di dalam bangunan tersebut. Ia menyebut kejadian serupa berlangsung berulang kali selama dirinya tinggal di lokasi.
“Untuk aksi asusila sendiri saya sudah tahu berkali-kali saat saya kembali mencari rongsok. Saya cari rongsok kalau malam hari, saat kembali ke halte ini untuk mengumpulkan rongsok dan istirahat, saya mengetahuinya dua pria yang satu nungging yang satu berdiri. Mereka sesama laki-laki, tidak ada wanita yang ke sini,” imbuhnya.
Selain mengaku pernah memergoki aktivitas tersebut, Yuliansyah juga mengatakan pernah menemukan alat kontrasepsi bekas di dalam bangunan. Menurutnya, temuan itu semakin menguatkan dugaan bahwa lokasi tersebut digunakan sebagai tempat melakukan perbuatan asusila.
Ia juga mengaku menemukan cairan di lantai bangunan ketika membersihkan area tersebut. Selama tinggal di bekas halte, dirinya mengaku tidak pernah mengetahui adanya aktivitas pesta minuman keras di lokasi tersebut.
“Saya pernah menemukan alat kontrasepsi berbentuk kondom. Di sini biasanya dibuat tempat asusila, tidak pernah ada yang minum minuman keras setahu saya saat tinggal di sini,” tutupnya.
Hingga kini, bangunan bekas Halte KA Sawotratap masih dipasangi garis polisi. Selembar kertas berisi tulisan bernada kecaman juga masih terlihat menempel di area bangunan.
Lokasi yang sebelumnya dikenal sebagai bangunan terbengkalai itu kini menjadi perhatian masyarakat setelah dugaan aktivitas asusila sesama pria mencuat. Bangunan yang berada di kawasan Sawotratap, Kecamatan Gedangan, tersebut untuk sementara ditutup aksesnya setelah pemasangan garis polisi.
(Yard)





