KOTA, SIDOARJONEWS.id — Ribuan pekerja di Sidoarjo merayakan Hari Buruh Internasional atau May Day yang diperingati setiap tanggal 1 Mei.
Ada sekitar lima ribu buruh yang merayakan May Day dengan berdemonstrasi di Alun-alun Sidoarjo. Usai melakukan orasi, kemudian mereka bertolak ke Kantor Gubernur Jatim untuk menyampaikan aspirasi dan tuntutannya.
Wakil Serikat Pekerja Nasional (SPN) Sidoarjo, Nurhidayat mengatakan, May Day merupakan momentum penting untuk buruh di seluruh dunia. Untuk itu ia menuntut pemerintah memberikan keadilan bagi pekerja.
“Tuntutan kami yakni menolak PP Nomor 51 tahun 2023 tentang pengupahan, lalu hapus pajak bagi penghasilan atau gaji buruh,” katanya saat ditemui, Rabu (1/5/2024).
Disamping itu, SPN Sidoarjo juga menyuarakan tentang kasus pelecehan seksual terhadap buruh yang kerap terjadi, baik secara fisik, psikologi maupun melalui intimidasi.
Ia meminta pemerintah tegas dalam menanggulangi hal tersebut. “Kami minta pemerintah tegas dalam menanggulangi masalah pelecehan seksual ini,” ungkapnya.
Disamping itu, adanya kebijakan karyawan outsourcing dianggap sangat merugikan pekerja. Oleh sebab harus ada evaluasi, kalau perlu dilakukan penghapusan.
“Terus kami secara nasional juga mengkampanyekan terhadap Jaminan Sosial Semesta Sepanjang Hayat (JS3H),” imbuh Nurhidayat.
Agus Supriatna, peserta aksi May Day dalam orasinya menyatakan, tanggal 1 Mei merupakan sejarah bagi kaum buruh. Namun, sampai saat ini di Indonesia, keberadaan buruh tak lebihnya seperti budak.
“Kami terus berjuang, kaum buruh untuk terlepas dari sistem perbudakan, karena itu ditanggal 1 Mei ini kita akan berjuang sama-sama,” katanya.
Agus melihat jika Indonesia masih dicengkeram oleh kapitalis. Sebagaimana ruang perbudakan yang terbuka lebar melalui Undang-Undang Omnibus Law.
“Kita meminta pada pemerintah agar anak buruh, anak pekerja disediakan pendidikan gratis, karena kita jauh dari zonasi pendidikan itu, kita harus siap berjuang kawan-kawan,” pungkasnya. (Ipung)