KOTA, SIDOARJONEWS.id — Persoalan adiksi di Sidoarjo kini tidak hanya berkaitan dengan penyalahgunaan narkoba. Adiksi perilaku, termasuk judi online, turut menjadi perhatian sehingga Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sidoarjo memperkuat peran Agen Pemulihan (AP) di Desa Gemurung dan Rangkah Kidul.
Penguatan tersebut dilakukan melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang digelar di Kantor BNNK Sidoarjo, Jumat, 25 September 2026. Tim FK UNAIR yang terlibat terdiri atas dr. Astri Dewayani, dr. Langgeng Agung Waskito, Sp.PD. dan dr. Sheila Gautama, Sp.KJ.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan AP dalam memahami persoalan adiksi sekaligus melakukan pendampingan kepada masyarakat. Langkah tersebut dilakukan di tengah tingginya kasus narkoba di Jawa Timur.
Dari data yang didapat dari Polda Jawa Timur, mencatat penangkapan kasus narkoba mencapai 847 kasus sepanjang Agustus 2026. Kelompok usia muda dan remaja menjadi porsi terbesar yang rentan terjerat akibat himpitan ekonomi.
Kepala BNNK Sidoarjo, Kombespol Gatot Soegeng Soesanto, menyambut positif kolaborasi tersebut. Menurutnya, keterlibatan akademisi menjadi angin segar untuk menekan angka kecanduan di sejumlah wilayah zona merah Sidoarjo.
“Keterlibatan akademisi menjadi angin segar untuk menekan angka kecanduan di Sidoarjo,” ujar Kepala BNNK Sidoarjo, Kombespol Gatot Soegeng Soesanto.

Apresiasi juga datang dari Yayasan Rehabilitasi Korban Narkoba Jawa Timur (YR Kobra Jatim). Direktur YR Kobra Jatim, Tjatur Agus Prabowo, menilai pembekalan yang diberikan pihak FK Unair sangat relevan dengan kebutuhan Agen Pemulihan di lapangan.
Tjatur mengapresiasi kolaborasi yang dibangun FK Unair dengan YR Kobra Jatim. Menurutnya, ilmu yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menjadi bekal penting bagi Agen Pemulihan yang bersentuhan langsung dengan para pecandu.
“Saya sangat mengapresiasi kolaborasi yang dibentuk Fakultas Kedokteran Unair dengan Yayasan Rehabilitasi Korban Narkoba Jawa Timur atau YR Kobra Jatim. Sebab, ilmu yang disampaikan ini bermanfaat dan sangat dibutuhkan seorang Agen Pemulihan dalam melaksanakan tugas,” ujar Tjatur Agus Prabowo kepada sidoarjonews.id.
Sebanyak delapan Agen Pemulihan dari Desa Gemurung dan Rangkah Kidul bersama tim BNNK Sidoarjo mendapat pembekalan mengenai adiksi. Materi antara lain membahas cara kerja adiksi di otak, tanda-tanda intoksikasi, hingga cara berkomunikasi dengan orang yang mengalami kecanduan.
Peserta dijelaskan bahwa Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya (Napza) dapat memberikan lonjakan dopamin yang menimbulkan rasa senang berlebihan. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang kembali mencari pengalaman yang sama hingga muncul kecanduan.
Hal serupa dapat terjadi pada adiksi perilaku. Rasa senang setelah menang taruhan atau puas menyelesaikan permainan dapat mendorong seseorang mengulanginya.
Dalam proses pemulihan, periode 0 sampai 6 bulan menjadi waktu yang sangat rentan terhadap kecanduan kembali. Karena itu, pendampingan dan komunikasi dengan pecandu menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
Agen Pemulihan juga diberikan pemahaman mengenai tanda-tanda intoksikasi pada zat halusinogen, stimulan, dan alkohol. Jika menemukan seseorang agresif, meracau atau melakukan tindakan tidak sesuai norma, agen dapat mengamankan dan memanggil bantuan.
Jika korban kejang atau tidak sadar, tubuh perlu dimiringkan dan tidak diberikan minum apa pun.
Dalam pemulihan adiksi ringan, komunikasi dilakukan untuk menggali motivasi pecandu. Terapi kognitif atau cognitive behavioural therapy diarahkan agar seseorang mampu memahami konsekuensi tindakannya dan menemukan solusi dari dirinya sendiri.
Tantangan lain adalah hubungan pecandu dengan lingkungan pergaulan lama yang dapat kembali menawarkan zat adiksi atau mengajak berjudi. Karena itu, pendekatan kekeluargaan dan komunikasi dua arah menjadi penting.
Pengabdian tersebut merupakan bagian dari flagship universitas AIRCARE atau Airlangga Integrated Community Health, Access, Response, and Equity. Program ini mendukung transformasi kesehatan masyarakat melalui promosi kesehatan.
Kegiatan tersebut juga sejalan dengan SDGs atau Sustainable Development Goals, yakni 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang ditetapkan PBB untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dan menjaga kelestarian bumi hingga 2030. Penguatan pencegahan dan penanganan adiksi mendukung SDGs 3, sedangkan kolaborasi FK UNAIR dan BNN Kabupaten Sidoarjo mendukung SDGs 17.
Muhajirin, salah satu Agen Pemulihan asal Desa Rangkah Kidul, mengatakan, pendekatan komunikasi menjadi salah satu hal penting yang didapat dalam pembekalan tersebut.
“Kesimpulan materi yaitu komunikasi yang kekeluargaan, pelan-pelan, dan tidak agresif. Dengan begitu, pecandu akan menaruh rasa percaya dan keselamatan agen selama pendampingan tetap terjaga,” ujar Muhajirin.
Melalui kegiatan ini, FK Unair bersama YR Kobra Jatim dan BNN Kabupaten Sidoarjo, memperkuat peran Agen Pemulihan agar mampu memberikan pendampingan yang lebih baik kepada masyarakat yang menghadapi adiksi NAPZA maupun adiksi perilaku.
(Yard)





