HomeKomunitasThe Reckless of 90's: Saat Kawan-Kawan Lama Underground Sidoarjo Kembali Bikin Ribut

The Reckless of 90’s: Saat Kawan-Kawan Lama Underground Sidoarjo Kembali Bikin Ribut

KOTA, SIDOARJONEWS.id – Di tengah derasnya arus digital dan perubahan tren musik yang bergerak begitu cepat, sebagian pelaku musik underground memilih tetap berjalan di jalur yang mereka yakini. Bukan semata soal genre, melainkan tentang nilai, persaudaraan, loyalitas, dan identitas yang telah dibangun sejak puluhan tahun lalu.

Semangat itulah yang menjadi dasar lahirnya Blackdog Subculture Pride bertajuk The Reckless of 90’s yang akan digelar pada Minggu, 5 Juli 2026, di Dewan Kesenian Celep, Sidoarjo.

Bagi sebagian orang, acara ini mungkin hanya terlihat sebagai konser reuni. Namun, bagi pelaku akar rumput underground, The Reckless of 90’s adalah ruang untuk kembali menyambung memori kolektif yang pernah tumbuh dari studio latihan sederhana, panggung-panggung kecil, distro independen, hingga komunitas yang terbentuk tanpa campur tangan industri besar.

Era 1990-an menjadi salah satu fase penting dalam sejarah perkembangan musik independen di Indonesia, termasuk di Sidoarjo. Pada masa itu, musik bukan sekadar hiburan. Ia menjadi medium ekspresi, perlawanan, sekaligus cara anak muda menemukan identitas dirinya.

Dari bawah lampu traffict light, gang sempit, lapangan terbuka, teras sekolah TK, tongkrongan Mahkota, studio gigs hingga panggung komunitas, lahirlah berbagai kelompok musik yang membawa warna masing-masing di Sidoarjo. Ada yang mengusung hardcore, punk, ska, grunge, metal, death metal dan yang lainnya.

Mereka tumbuh dengan semangat do it yourself (DIY), membangun jaringan sendiri, membuat rilisan secara mandiri, hingga mengorganisasi pertunjukan tanpa bergantung pada pihak luar.

Blackdog Subculture Pride mencoba membawa kembali energi tersebut dalam sebuah pertemuan lintas generasi. Tidak hanya menghadirkan para pelaku lama yang pernah aktif di era 90-an, tetapi juga membuka ruang bagi generasi baru untuk memahami akar kultur yang selama ini menjadi fondasi musik independen perlawanan di Sidoarjo.

Sejumlah nama yang memiliki rekam jejak panjang dalam komunitas musik independen itu, dijadwalkan tampil dalam acara tersebut. Mulai dari Sacrifice yang dikenal dengan warna Javanesse Mythological yang melalang buana sejak tahun1996, Naked Brain dengan energi hardcore yang muncul sejak tahun 1997.

The Sukudalu yang membawa irama ska di Sidoarjo pada sekitarnya tahun 1996, kemudian RJ Power yang identik dengan kultur skinhead yang hadir di telinga temen-teman dari tahun 1998, hingga band Centelan yang mengusung genre musik harmonic grunge, tumbuh pada tahun 1999.

Tidak hanya itu, band dengan warna street pogo punk, Sleeping Police, dan Mahkota Jaya Abadi (MJA) yang dikenal melalui melodic punk juga akan meramaikan panggung reuni tersebut. Kehadiran Sarcofagus dan Involv dari ranah death metal semakin mempertegas keberagaman wajah underground yang pernah tumbuh di Sidoarjo.

Bagi pelaku sub culture, keberadaan band-band tersebut bukan hanya soal musik. Mereka merupakan bagian dari sejarah yang ikut membentuk karakter komunitas. Sebagian di antaranya lahir ketika akses informasi masih terbatas, internet belum menjadi kebutuhan sehari-hari, dan promosi dilakukan melalui selebaran fotokopi, kaset demo, hingga informasi dari mulut ke mulut.

Karena itu, The Reckless of 90’s tidak sekadar menghadirkan nostalgia. Acara ini menjadi ruang silaturahmi bagi mereka yang pernah berada dalam satu lingkaran perjuangan yang sama. Sebuah ruang di mana cerita lama kembali dipertemukan dengan semangat baru.

Salah satu penggagas acara, Nico, mengatakan, konsep yang diusung juga tidak hanya berfokus pada pertunjukan musik. Panitia juga menyiapkan area komunitas, booth merchandise, serta ruang kolaborasi kreatif yang memungkinkan interaksi lebih dekat antara musisi, kolektif, pelaku kreatif, dan pengunjung.

“Melalui kegiatan ini, komunitas ingin menunjukkan bahwa kultur underground tidak pernah benar-benar hilang. Ia mungkin tidak selalu berada di panggung utama, tetapi terus hidup melalui karya, solidaritas, dan konsistensi para pelakunya,” ujar pria yang biasa dipanggil Komixx kepada sidoarjonews.id, Rabu, (17/06/2026)?

Gitaris band hardcore asal Sidoarjo, Naked Brain, ini juga berpesan, Blackdog Subculture Pride mengusung gaya sederhana namun kuat, yakni mendukung setiap bentuk pergerakan lokal, terus berkarya, dan menjaga api kreativitas agar tetap menyala.

“Semoga ini bisa menjadi representasi generasi musisi underground yang masih menjaga semangat independen sekaligus menjadi penghubung antara pelaku lama dan generasi baru,” pungkas gitaris asal Karanggayam Pelabuhan tersebut.

Pada akhirnya, The Reckless of 90’s bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Acara ini menjadi pengingat bahwa skena underground dibangun oleh orang-orang yang percaya pada karya, kebersamaan, dan kebebasan berekspresi. Nilai-nilai itulah yang membuat kultur tersebut tetap bertahan melintasi waktu dan terus menemukan bentuknya di setiap generasi.

Bagi komunitas underground Sidoarjo, reuni ini adalah perayaan atas perjalanan panjang yang telah dilalui. Sebuah momentum untuk kembali bertemu, berbagi cerita, dan memastikan bahwa semangat yang pernah lahir pada era 90-an masih terus hidup hingga hari ini.

Respect! Respect! Respect!

(Yard)

 

BERITA LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

IKUTI

9,307FansLike
26,903FollowersFollow
37,200FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

BERITA POPULER