KOTA, SIDOARJONEWS.id — Sebuah inisiatif kreatif bertajuk “Sidoarjo Saga – Legenda Penjaga Kota Delta” resmi diperkenalkan sebagai proyek pengembangan Intellectual property (IP) lokal yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekosistem animasi sekaligus pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Kabupaten Sidoarjo.
Proyek ini digagas oleh kreator sekaligus entrepreneur di bidang industri kreatif, Ahadin Syarifudin Fahmi Adimara, SKM, M.KKK, yang juga merupakan pendiri dan pemilik Bumi Saga Studio, sebuah studio kreatif yang fokus pada pengembangan storytelling visual dan pembangunan IP berbasis cerita.
“Sidoarjo Saga” mengangkat konsep cerita visual yang terinspirasi dari legenda fiksi tentang sosok penjaga Kota Delta, julukan yang selama ini melekat pada Kabupaten Sidoarjo. Dalam konsep tersebut, cerita lokal dipadukan dengan pendekatan visual modern untuk menghasilkan dunia naratif yang dapat berkembang ke berbagai bentuk konten digital.
Proyek ini tidak hanya dirancang sebagai cerita atau karya ilustrasi semata, tetapi juga menjadi fondasi bagi pengembangan berbagai produk kreatif, mulai dari animasi pendek, komik digital, ilustrasi konseptual, hingga eksplorasi teknologi AI dalam proses produksi konten visual.
Menurut Fahmi Adimara, gagasan “Sidoarjo Saga” lahir dari keinginan untuk membangun ruang kreatif baru yang mampu menggabungkan potensi cerita lokal dengan teknologi masa depan.
“Melalui Sidoarjo Saga, kami ingin menunjukkan bahwa daerah seperti Sidoarjo memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri animasi dan teknologi kreatif. Kami ingin membuka ruang kolaborasi bagi ilustrator, animator, storyteller, hingga pengembang teknologi AI untuk bersama-sama membangun karya yang berakar dari cerita lokal namun memiliki potensi global,” ujar Fahmi kepada sidoarjonews.id, Selasa, (10/03/2026).
Ia menjelaskan, bahwa pengembangan IP lokal menjadi langkah strategis dalam membangun industri kreatif yang berkelanjutan. Dengan memiliki karakter, dunia cerita, dan narasi yang kuat, sebuah daerah dapat menciptakan identitas kreatif yang mampu berkembang di berbagai platform media.
Melalui Bumi Saga Studio, proyek “Sidoarjo Saga” dirancang sebagai proyek percontohan yang diharapkan dapat memicu lahirnya karya-karya kreatif lain dari para talenta lokal. Tidak hanya fokus pada produksi konten, proyek ini juga diarahkan untuk membangun ekosistem kreatif yang melibatkan berbagai pihak.
Fahmi menilai, pengembangan industri animasi dan teknologi kreatif membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari komunitas kreatif, pelaku industri, institusi pendidikan, hingga dukungan pemerintah daerah.
“Kami ingin menciptakan ekosistem di mana para kreator muda dapat belajar, berkolaborasi, dan mengembangkan karya mereka. Animasi dan AI adalah dua bidang yang memiliki masa depan besar, dan Sidoarjo memiliki potensi untuk menjadi salah satu pusat pengembangan talenta kreatif di Jawa Timur,” tambahnya.
Ke depan, pengembangan “Sidoarjo Saga” juga direncanakan melibatkan berbagai program kegiatan, seperti workshop kreatif, kolaborasi dengan komunitas ilustrator dan animator, serta eksplorasi penggunaan teknologi AI dalam proses produksi konten visual.
Dengan pendekatan yang memadukan kekuatan narasi lokal dan teknologi kreatif modern, “Sidoarjo Saga – Legenda Penjaga Kota Delta” diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat posisi Sidoarjo sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri kreatif di Jawa Timur.
Selain menghadirkan cerita dan karakter baru, proyek ini juga diharapkan mampu membuka peluang lahirnya generasi kreator muda yang siap bersaing di industri kreatif nasional hingga global. Melalui pengembangan IP berbasis daerah, Sidoarjo berpotensi tidak hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga sebagai kota yang melahirkan karya-karya kreatif berbasis teknologi dan budaya lokal.
(*Ard)





