Minggu, Agustus 31, 2025
BerandaPemerintahanKrisis Petani di Sidoarjo: Hanya 23 Ribu dari 2 Juta Penduduk yang...

Krisis Petani di Sidoarjo: Hanya 23 Ribu dari 2 Juta Penduduk yang Bertahan

KOTA, SIDOARJONEWS.id – Jumlah petani di Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2024 ini hanya tersisa kurang lebih 23 ribuan orang dari total jumlah penduduk sebanyak 2 juta lebih.

Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo menyebutkan bahwa saat ini luas lahan sawah yang masih aktif sekitar 15.000 hektar. Setiap tahun jumlah petani terus mengalami penurunan.

“Untuk jumlah petani secara keseluruhan sekitar 23 ribuan orang,” sebut Kepala Bidang Pengembangan Produksi Tanaman Pangan, Hokikultura, Perkebunan dan Pengendalian Bencana Pertanian (TPHP & PBP), Nurwantiningsih, Jumat (13/12/2024).

Puluhan ribu petani tersebut tergabung dalam 320 gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang tersebar di seluruh wilayah di Kota Delta. Paling banyak berada di Sidoarjo barat.

Untuk kelompok tani, lanjut Naning-sebutan Nurwantiningsih sebanyak 685, karena rata-rata di setiap desa itu ada dua sampai tiga poktan.

Dinas Pangan dan Pertanian sebenarnya sudah berupaya menambah jumlah petani dengan gencar melakukan sosialisasi dan penyuluhan, utamanya bagi petani millennial.

“Ada pelatihan untuk petani millennial, namun setelah itu banyak yang tidak aktif Bertani,” jelas Naning.

Penggunaan teknologi pertanian masih mempunyai kendala. Terutama dalam hal kesiapan operator, kalua petani rata-rata sudah berusia 50 tahunan, sedangkan petani millennial banyak yang kurang serius.

“Saat ini, petani millenial di Sidoarjo masih terbatas, dan proses alih teknologi terus berjalan meski dengan banyak hambatan,” ungkapnya.

Minimnya jumlah petani menyebabkan kebutuhan bahan pokok beras di Sidoarjo belum tercukupi. Alhasil harus mendatangkan dari daerah lain. Seperti Lamongan dan sekitarnya.

Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo mengklaim sejauh ini kebutuhan stok beras selalu tercukupi dan harganya masih stabil.

“Selama tahun 2024 belum ada keluhan harga gabah turun dari petani, semuanya masih dalam tahap normal. Waktu panen kemarin harga gabah masih sekitar Rp 6 ribuan,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga mendorong para petani untuk beralih ke penggunaan pupuk organik. Mengingat kondisi tanah pertanian di Sidoarjo, kualitas sudah mulai menurun.

Penggunaan pupuk organik dinilai dapat memperbaiki kualitas tanah dalam jangka panjang. Namun, memiliki tantangan dalam praktik yang dialami warga.

“Kami terus mengajak petani untuk menggunakan pupuk organik, meskipun ada kendala terkait biaya dan tenaga kerja,” katanya.

“Petani seringkali enggan menggunakan pupuk organik karena bisa meningkatkan biaya dan memerlukan tenaga tambahan untuk mengelola rumput yang tumbuh,” tambahnya.

Namun, ia tetap yakin dapat merubah pola pikir dan kebiasaan petani, dari yang menggunakan pupuk non organik ke organik.

“Kami berharap penggunaan pupuk organik dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga kesuburan tanah,” pungkasnya. (ipung)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

IKUTI

9,233FansSuka
26,623PengikutMengikuti
35,500PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

BERITA POPULER