TANGGULANGIN, SIDOARJONEWS.id — Banjir yang menggenangi area Desa Kedungbanteng dan sekitarnya terpantau surut, Sabtu (20/1/2024). Banjir ini sudah menjadi masalah tahunan yang tak kunjung selesai di sana.
Setiap hujan mengguyur, desa tersebut selalu timbul genangan air. Semakin deras hujannya maka semakin tinggi pula banjirnya.
Untuk mempercepat aliran air, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) memasang 26 unit pompa mobile, blower, dan alkon di desa tersebut.
Camat Tanggulangin Sabino Mariano mengatakan jalan di kawasan Kedungbanteng dan rumah warga sudah tidak tergenang air lagi.
“Sekolah SMPN 2 Tanggulangin juga sudah mulai kering, siswa sudah mulai bisa beraktivitas dengan normal,” kata Camat Sabino, Sabtu (20/1/2024) pagi.
Menurut Camat Sabino, genangan air di kawasan Desa Kedungbanteng dipengaruhi setidaknya tiga faktor. Pertama, curah hujan yang turun. Semakin deras hujan, kemungkinan terjadinya genangan semakin besar.
Kedua, daya tampung Sungai Gedangrowo dan Sungai Kedung Peluk. Jika kedua sungai itu sudah penuh, air sungai pasti meluap. Kondisi sungai ini sangat dipengaruhi oleh kiriman dari daerah lain.
Ketiga, pasang-surut air laut. Saat air laut pasang, permukaan sungai akan naik. Air juga bakal masuk ke permukiman warga. Sekalipun disedot, hasilnya tidak akan maksimal. Sebab, permukaan sungai hampir sama dengan permukaan air laut.
”Kalau pas hujan deras, air kiriman datang, dan laut pasang ya bisa dibayangkan kondisinya,” ucap Camat Sabino.
Sebenarnya, ada rumah pompa yang disiapkan di Desa Kedungbanteng. Pompa itu pun dioperasikan. Namun, sifatnya fungsional sesuai dengan kondisi saat itu. Jika dioperasionalkan penuh, sering ada komplain dari dari desa-desa di wilayah Kecamatan Candi.
Sebab, setelah genangan air di Desa Kedungbanteng disedot dengan pompa dan dibuang ke sungai, air justru bisa menggenangi desa-desa di wilayah Candi. Misalnya, Desa Kendal Pecabean. Termasuk, bila air laut sedang pasang dan permukaan tinggi, pompa tidak akan bekerja maksimal. Air kembali. Jadi, hanya buang-buang bahan bakar.
”Sejauh ini, pompa itu tetap beroperasi secara fungsional,” terangnya.
Guna mengatasi banjir tersebut, semua lini menurur Sabino ikut membantu. Standby siang dan malam. Pada Jumat siang dan malam, mereka bergotong royong. Ada pula bantuan dua pompa mobile dari BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Brantas.
Kerja keras berbagai pihak selama beberapa hari terakhir membuahkan hasil. ”Alhamdulillah sekarang sudah surut,” pungkasnya. (Ipung)